Pada mulanya
adalah “humor”. Begitulah, ciri dan khas jika menemui tulisan-tulisan Mahbub.
Kepiawaian dalam merumuskan kata, dan kaya akan metafor adalah salah satu
metode yang ditempuh.
Mahbub, dalam
tumpukan essainya. Seperti: "Asal-Usul, Kolom Demi Kolom". Dan novel
termasyhur yang mendapat hadiah sayembara mengarang roman yang diselenggarakan
oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1974: “Dari Hari ke Hari”, membuat
bahasa, di sela-sela itu, perlu metafor untuk menyebutkan saat otoriter. Mungkin
karena alasan itulah novel tersebut tampil sebagai juara.
Syahdan, Mahbub
itu, ujar beberapa handai tolannya, mampu meggabungkan canda dan amanat
sekaligus. Seperti dalam cuplikan penggalam essai berikut: “Kalau dulu kita
butuh sosok Ratu adil, Raja adil, atau tetek bengek lainnya. Tapi, kalau
sekarang “adil” saja rasanya sudah cukup”.
Tapi, coba kita
lihat ke adegan lain. Bahwa organisasi yang dibidani melalui 13 pendiri itu,
punya riwayat yang berliku. Perlu kerja yang pontang-panting. Karena ada cita-cita
luhur yang musti diwujudkan. Dan spirit itu musti dirawat, dikembangkan
dan selalu hadir secara kontinyu. Ada, maupun tidak adanya founding fathers itu
sendiri.
Agaknya hal di
atas selaras dengan sebuah Bunga Rampai bertajuk “80 tahun Bung Karno”. Di
dalam itu, Mahbub merekam percakapan dengan pemimpin besar revolusi. “Tubuh
seseorang boleh saja dikubur dan dimakan cacing tanah tanpa meninggalkan bekas.
Namun, ide atau paham seseorang itu akan terus hidup. İa tidak akan pernah
terkubur dan dimakan tanah” begitu kata Pemimpin Besar Revolusi.
Terakhir dan
teristimewa, sebelum akhir kata. Senada dengan tema “Transformasi Gerakan,
Merawat Peradaban” yang diusung tahun ini. Barangkali, bukan hanya “aktivis
jalanan” yang perlu digeluti. Melainkan juga “aktivis webinar” yang perlu
ditekuni.
No comments:
Post a Comment