Monday, June 13, 2022

Perempuan itu, Ibu

Kiranya kita mafhum, kala Bung Karno menempuh sarjana di Technische Hogeschool (sekrang ITB), kenapa ia bisa cepat kelar ngerjain skrispsi, padahal situasi di tengah badai revolusi. Beragam alasan sebenarnya. Salah satunya karena isme “Berdikari” dan barangkali juga karena ada sosok Inggit Garnasih yang menemani.

Agaknya, hal ini selaras dengan “Perjuangan tanpa seorang perempuan” kata Bung Karno dalam sebuah diskursus tentang perempuan: Sarinah, “adalah perjuangan yang pincang”.

Sosok Inggit, dalam rute Kusno – begitu sapaan Inggit kepada Bung Karno – sangat penting. Dalam sebuah roman sejarah gubahan Ramadhan.KH yang diberi judul Ku Antar Ke Gerbang, dapat ditangkap. Bahwa dalam diri Inggit ada “tiga sosok kepribadian” yang melebur menjadi satu. İa bisa menjadi sosok ibu, istri, sekaligus sahabat yang baik.

Maka dari itu, perempuan, dalam hal ini seorang ibu menjadi indikator penting sebuah historis. Bahkan, munajatnya setara dengan 40 Wali. Di tangannya terbentuk sebuah madrasah, di kakinya berladang sorga.

No comments:

Post a Comment

Apa Yang Terjadi Dengan Majalah, Malam Itu

"Kamu harus berusaha agar kesenanganmu membaca koran sama dengan kesenanganmu makan rujak" begitu petuah dari kolomnis cum tokoh ...