Kiranya kita
mafhum, kala Bung Karno menempuh sarjana di Technische Hogeschool (sekrang
ITB), kenapa ia bisa cepat kelar ngerjain skrispsi, padahal situasi di tengah
badai revolusi. Beragam alasan sebenarnya. Salah satunya karena isme
“Berdikari” dan barangkali juga karena ada sosok Inggit Garnasih yang menemani.
Agaknya, hal ini
selaras dengan “Perjuangan tanpa seorang perempuan” kata Bung Karno dalam
sebuah diskursus tentang perempuan: Sarinah, “adalah perjuangan
yang pincang”.
Sosok Inggit,
dalam rute Kusno – begitu sapaan Inggit kepada Bung Karno – sangat penting.
Dalam sebuah roman sejarah gubahan Ramadhan.KH yang diberi judul Ku
Antar Ke Gerbang, dapat ditangkap. Bahwa dalam diri Inggit ada “tiga
sosok kepribadian” yang melebur menjadi satu. İa bisa menjadi sosok ibu, istri,
sekaligus sahabat yang baik.
Maka dari itu, perempuan, dalam hal ini seorang ibu menjadi indikator penting sebuah historis. Bahkan, munajatnya setara dengan 40 Wali. Di tangannya terbentuk sebuah madrasah, di kakinya berladang sorga.
No comments:
Post a Comment