"Kamu harus berusaha agar kesenanganmu membaca koran sama
dengan kesenanganmu makan rujak" begitu petuah dari kolomnis cum tokoh
yang pernah mendapat hadiah sayembara mengarang roman yang diselenggarakan oleh
Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1974, dengan meluncurkan buku bertajuk
"Dari hari ke hari", ia, adalah: Mahbub
Djunaidi.
Barangkali bukan hanya ibu, ayah dan guru yang membesarkan seorang anak.
Buku-buku bacaan, koran serta beberapa magazine mungkin turut andil guna
tumbuh kembangnya seorang anak. Dan untuk majalah, dalam hal ini ialah: Tempo.
Saya dan Khadafi punya cerita tersendiri selama berkunjung ke
halaman-halaman majalah Tempo. Waktu itu, malam hari, ada seorang teman yang
sedang bertandang ke kosan - kunjungan ini kadang mendadak - seperti halnya sidak.
Ketika teman ini masuk ke kosan, kebetulan saya dan Khadafi sedang mendaras
beberapa majalah Tempo. Beberapa majalah ada di hadapan kami, dan sisanya kami
tumpukan di dekat pintu karena kondisi majalah tersebut baru saja sampai.
Syahdan, teman ini duduk sambil menghisap cigaretnya, tiba-tiba
dengan santainya ia menyandarkan tangan kanannya di atas tumpukan majalah Tempo
di dekat pintu itu, dan seakan tidak terjadi apa-apa.
Sontak saya dan Khadafi cemas, dag-dig-dug, dan saling melirik satu
sama lain. Dalam lirikan itu seolah kami sedang berbisik "waduh, berabe
juga kalo kawan satu ini berselonjor begitu" ucap saya dalam hati dan
seakan dibalas dengan Khadafi "awas saja sampai lembar itu
kenapa-kenapa".
Bukan karena apa, untuk mengumpulkan majalah Tempo ini Khadafi rela
merogoh koceknya lebih dalam. Dan itu perlu pengorbanan, jerih dan payah.
Tak berselang lama saya meminta izin kepada teman ini untuk
mengambil majalah tersebut karena khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak di
inginkan, dengan alasan supaya dia lebih leluasa berbaringlah.
Dan ternyata dugaan tersebut benar. Ketika kawan ini mengangkatkan
tangan kanannya, apa yang terjadi setelah itu yang membuat kami berdua
keblinger. Spot jantung. Pasalnya, ketika ia mengangkat tangan kanannya,
majalah itu rupanya ikut juga menempel di tangannya.
Seolah bisikan tadi belum selesai, dari mata Khadafi saya melihat
ia seakan ingin mengatakan: "Tuh kan, apa ku bilang".
Tuh, kan. Apa ku bilang.
ReplyDelete