Wednesday, August 31, 2022

Apa Yang Terjadi Dengan Majalah, Malam Itu

"Kamu harus berusaha agar kesenanganmu membaca koran sama dengan kesenanganmu makan rujak" begitu petuah dari kolomnis cum tokoh yang pernah mendapat hadiah sayembara mengarang roman yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1974, dengan meluncurkan buku bertajuk "Dari hari ke hari", ia, adalah: Mahbub Djunaidi.

Barangkali bukan hanya ibu, ayah dan guru yang membesarkan seorang anak. Buku-buku bacaan, koran serta beberapa magazine mungkin turut andil guna tumbuh kembangnya seorang anak. Dan untuk majalah, dalam hal ini ialah: Tempo.

Saya dan Khadafi punya cerita tersendiri selama berkunjung ke halaman-halaman majalah Tempo. Waktu itu, malam hari, ada seorang teman yang sedang bertandang ke kosan - kunjungan ini kadang mendadak - seperti halnya sidak.

Ketika teman ini masuk ke kosan, kebetulan saya dan Khadafi sedang mendaras beberapa majalah Tempo. Beberapa majalah ada di hadapan kami, dan sisanya kami tumpukan di dekat pintu karena kondisi majalah tersebut baru saja sampai.

Syahdan, teman ini duduk sambil menghisap cigaretnya, tiba-tiba dengan santainya ia menyandarkan tangan kanannya di atas tumpukan majalah Tempo di dekat pintu itu, dan seakan tidak terjadi apa-apa.

Sontak saya dan Khadafi cemas, dag-dig-dug, dan saling melirik satu sama lain. Dalam lirikan itu seolah kami sedang berbisik "waduh, berabe juga kalo kawan satu ini berselonjor begitu" ucap saya dalam hati dan seakan dibalas dengan Khadafi "awas saja sampai lembar itu kenapa-kenapa".

Bukan karena apa, untuk mengumpulkan majalah Tempo ini Khadafi rela merogoh koceknya lebih dalam. Dan itu perlu pengorbanan, jerih dan payah.

Tak berselang lama saya meminta izin kepada teman ini untuk mengambil majalah tersebut karena khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, dengan alasan supaya dia lebih leluasa berbaringlah.

Dan ternyata dugaan tersebut benar. Ketika kawan ini mengangkatkan tangan kanannya, apa yang terjadi setelah itu yang membuat kami berdua keblinger. Spot jantung. Pasalnya, ketika ia mengangkat tangan kanannya, majalah itu rupanya ikut juga menempel di tangannya.

Seolah bisikan tadi belum selesai, dari mata Khadafi saya melihat ia seakan ingin mengatakan: "Tuh kan, apa ku bilang".

Wednesday, July 6, 2022

O, Anak

Oleh: Goenawan Mohamad

 

Anak adalah sumber kecemasan berabad-abad. Atau barangkali lebih tepat: anak adalah tempat seorang tua menggantungkan kecemasan-kecemasannya sendiri.

Saya ingat satu episode dalam hari-hari terakhir Amangkurat I, ketika raja Mataram itu lari dari ibu kotanya yang jatuh di pertengahan abad ke-17. Dalam pengungsian ke arah barat itu, di sebuah desa raja jatuh sakit. Baginda pun dibaringkan di sebuah rumah.

Dan di dekat ranjang raja yang gering itu, Pangeran Adipati dan seorang bangsawan pengiring duduk bersimpuh menunggui. Sakit Baginda makin menjadi. Pada suatu ketika, ia menginginkan kelapa muda. Dengan segera Pangeran Adipati menyuruh seseorang untuk memperolehnya. Setelah didapat, dawegan itu pun dipersembahkan ke hadapan Amangkurat yang nyaris tak berdaya dan, terbujur itu, untuk diminum.

Amangkurat melihat kelapa muda itu telah dilubangi, dan ia pun mereguk airnya. Tapi ucapannya setelah itu — yang ditujukan kepada Pangeran Adipati, putra mahkotanya — sangat mengejutkan. ”Terima kasih, Anakku,” demikian ujar Raja, ”atas pemberianmu ini. Aku tahu apa maksudmu: engkau menyuruhku agar segera mati.”

Ada yang menafsirkan, kata-kata itu menunjukkan rasa curiga Amangkurat I kepada Pangeran Adipati: ia menduga calon penggantinya itu telah memasukkan racun ke dalam air kelapa muda yang diminumnya.

Bukan mustahil sekarang, dalam keadaan terbuncang itu — dalam keadaan kalah, terusir, getir, setengah putus asa dan amarah — Amangkurat mengidap paranoia. Kita tahu, penyakit gampang curiga ini sering menghinggapi orang macam dia, tokoh yang berkuasa dan menggemari kekuasaannya, yang juga amat kejam. Raja seperti Amangkurat I agaknya hanya tahu: hubungan kekuasaan ialah antara yang bisa mem-bunuh dan yang bisa di-bunuh.

Juga hubungannya dalam keluarga. Jauh sebelum takhtanya roboh, konflik pernah terjadi antara sang raja dan putra mahkota. Si anak suatu kali jatuh cinta kepada seorang gadis, yang sebenarnya sedang disimpan untuk dinikmati si bapak. Gadis itu dengan nekat dicuri. Tentu saja Baginda murka.

Hukuman, yang kemudian dijatuhkan, khas Amangkurat I: putra mahkota harus membunuh perempuan yang tak bersalah itu dengan tangannya sendiri; kakek dan nenek sang pangeran — yang juga paman Amangkurat — dihabisi bersama 40 anggota keluarganya, karena terlibat; dan Pangeran Adipati dibuang, tempat kediamannya dibakar. Baru setelah sekian waktu pangeran itu diampuni.

Tapi marilah kita kembali pada adegan itu. Amangkurat tahu ia akan segera habis. Tapi dengan melontarkan tuduhan bahwa putra mahkota tak setia, bapak itu sesungguhnya hendak menyatakan rasa pedihnya: si anak, yang kini lebih punya daya ketimbang si bapak, adalah juga sesuatu yang telah terlepas dari kekuasaan orangtuanya. Ada rasa kalah di dalam sikap itu. Itulah sebabnya anak satu sumber kecemasan. Dan si anak sebaliknya. Merasa tertekan oleh ketakutan yang bukan miliknya itu, ia mencoba lepas. Bentrok pun terjadi. Dan itulah dasar persengketaan antargenerasi.

Pada suatu hari, seorang ayah, yang jauh lebih mulia hatinya ketimbang Amangkurat I, pernah menulis kepada seorang anaknya, ”Engkau bukan tawananku, tetapi kawanku.” Ayah itu adalah Gandhi. Tetapi toh penelaah riwayat hidup Mahatma itu tahu: dengan segala kelemah-lembutannya, Gandhi bukanlah seorang ayah yang toleran kepada keinginan wajar anak-anaknya.

Bila Amangkurat I melihat anaknya sebagai seorang yang punya potensi meracuni seseorang untuk kekuasaan, seperti dirinya sendiri, Gandhi pun melihat anak-anaknya sebagai ia melihat dirinya: orang yang tanpa nafsu dan suci hati. Tak heran kita bila Kasturba, nyonya Gandhi yang luar biasa itu, memprotes cara suaminya mendidik anak dengan satu teriakan: ”Kau ingin agar anak-anakku jadi orang suci sebelum mereka jadi orang!”

Gandhi memang begitu mencemaskan akhlak anak-anaknya, hingga suatu hari ia mimpikan anak bungsunya, Devandas, mencuri uang. ”Aku bermimpi tadi malam bahwa kau mengingkari kepercayaanku kepadamu,” tulisnya kepada anak itu, Gandhi juga pernah menyatakan Harilal, yang sulung, tak diakuinya sebagai anak, karena Harilal ingin kawin pada umur 18 — meskipun Gandhi sendiri menikah pada usia lebih muda. Dan ketika Manilal, anaknya yang kedua, ketahuan mengambil uang milik ashram untuk dipinjamkan kepada kakaknya yang sedang mencoba bisnis, Gandhi memvonis anak ini dengan hukuman yang panjang: antara lain, Manilal diusir dari ashram dan tak boleh memakai nama Gandhi.

”O, Anak”, kata sebuah judul buku Imam Ghazali, yang seakan terdengar seperti, ”O, Kecemasanku!”. Mungkin dunia akan lebih baik jika seorang raja dan seorang suci tak melahirkan keturunan. Raja punya kekuasaan yang teramat besar, orang suci punya kesucian yang teramat tinggi. Kecemasan mereka, cinta mereka, konflik mereka, dan investasi mereka dalam urusan anak-anak mereka, bisa membuat banyak tindakan di luar proporsi.


Source: buku Catatan Pinggir 3

Tuesday, June 14, 2022

Sudah Beberapa Waktu

Kali pertama kesini

Aku diajak seorang teman

Karena dia tahu

Aku tak suka membaca

Dibilangnya lah “Ayo kita pergi makan tekwan”

 

Aku cukup keasl ketika sampai ia malah menyuruh melahap buku

“Buku bisa menjadi pelepas dahaga, penunda lapar” katanya

 

Di sana

Kami berpencar mencari halaman yang kesepian

Ada buku setebal bantal

Ada pula setipis tempe

Kulihat,

tak pula ramai orang berkunjung

Dan buku, 

hatinya tampak sedang murung

 

Temanku,

itu

 

Ia, baik

Bukan karena berupaya

Melainkan, itu

Bagian dari dirinya

Lampu Lalu Lintas

Cinta adalah lampu merah yang sering di terabas

Tak takut kena tilang

Mengusik pengendara lain

Dan mengabaikan aturan yang berlaku

 

Cinta adalah kekeliruan jalan lurus yang dianggap belok kiri langsung.

 

Ia

Dalam hal ini

Pelanggaran yang bermuatan romantik 

Monday, June 13, 2022

Boeng Hatta


    Habbit membaca memang kegiatan yang mudah, tapi agak sulit dilakukan. Namun ini tidak berlaku bagi Moh.Hatta. Sosok yang sangat bibliofil sekaligus poliglot ini, pernah membuat Belanda ketar-ketir ketika ia menyampaikan pledoinya bertajuk Indonesia Vrij – Indonesia Merdeka, di Den Haag, Belanda.

    Kembali ke adegan “Iqra”, ketika membaca, seseorang seringkali ngos-ngosan ke halaman berikutnya. Tak dapat dipungkiri, bahwa kegandrungan terhadap dunia pustaka tidak terlepas dari pengaruh sekitar. “Bukan intelektual yang mempengaruhi lingkungan seseorang, melainkan lingkungan yang mempengaruhi intelektual seseorang” begitulah yang tercermin dalam bukunya Bung Hatta berjudul Untuk Negeriku.

    Agaknya, hal ini selaras dengan “De appel valt niet” seperti kata pepatah Belanda “ver van de stam”, atau dalam istilah Jerman “Der apfel fallt nicht weit von dem stamm” yang bermakna: Buah apel tak jatuh jauh dari pokoknya, begitu tutur Hatta yang termuat dalam autobiografi Untuk Negeriku.

    Yang menarik dari Hatta, bukan hanya “syarat menikahnya, setelah Indonesia merdeka”, melainkan kepribadian Hatta yang prolifick, sederhana, namun tegas dalam bersikap.

    Akhirul kata, Bung Hatta, Bung Syahrir, dan beberapa rekan lainnya percaya bahwa dalam menjalan roda organisasi musti bertumpu pada penguatan literasi dan ruang-ruang diskusi. Bahwa “iklim akademik” yang baik, merupakan salah satu kunci dari tumbuh kembangnya suatu bangsa.

Bank dan Kenangan

Sebelum berangkat ke pasar, ibu singgah sebentar ke tempat abangnya: Bank. Aku senang bukan kepalang jika mendengar kabar ibu hendak pergi ke pasar. Melihat mainan robot, mobil-mobilan, seperti punya teman yang tak pernah kumiliki. Tapi tak apa pikirku, kan aku punya ibu dan. Ibu adalah segalanya bagiku.

Sesampai di bank, aku bilang ke ibu ikut masuk ke dalam. Aku penasaran kenapa setelah orang dewasa itu keluar dari sana wajahnya bisa berubah-ubah seketika. Ada yang senyumnya bermekaran, meskipun namanya bukan Bunga. Ada yang cemberut persis ketika aku tidak dibelikan mainan oleh ibu. Ada-ada saja perangai orang dewasa, pikirku.

Waktu masuk ke dalam atm itu kurasai hawa yang berbeda. Kok dingin banget ya disini, pikirku sambil memeluk tubuhku yang mungil. Aku menghirup udara ac yang dingin melalui hidung lalu menghembuskannya lewat mulut, ku ulangi terus-menerus selama di dalam atm itu.

Pun kartu ditelan, aku melihat ibu yang sedikit fokus memasukkan entah angka apa itu. Dan ketika mesin berbunyi tanda mengeluarkan uang. Aku berkata kepada ibu yang tanggan menggadahkan sedari tadi, “Bu, nanti kalau uangnya udah keluar, boleh aku yang ambil ya”.

Jika mengingat kisah ini. Aku ingat, bahwa umurku sudah tidak kecil lagi.

Perempuan itu, Ibu

Kiranya kita mafhum, kala Bung Karno menempuh sarjana di Technische Hogeschool (sekrang ITB), kenapa ia bisa cepat kelar ngerjain skrispsi, padahal situasi di tengah badai revolusi. Beragam alasan sebenarnya. Salah satunya karena isme “Berdikari” dan barangkali juga karena ada sosok Inggit Garnasih yang menemani.

Agaknya, hal ini selaras dengan “Perjuangan tanpa seorang perempuan” kata Bung Karno dalam sebuah diskursus tentang perempuan: Sarinah, “adalah perjuangan yang pincang”.

Sosok Inggit, dalam rute Kusno – begitu sapaan Inggit kepada Bung Karno – sangat penting. Dalam sebuah roman sejarah gubahan Ramadhan.KH yang diberi judul Ku Antar Ke Gerbang, dapat ditangkap. Bahwa dalam diri Inggit ada “tiga sosok kepribadian” yang melebur menjadi satu. İa bisa menjadi sosok ibu, istri, sekaligus sahabat yang baik.

Maka dari itu, perempuan, dalam hal ini seorang ibu menjadi indikator penting sebuah historis. Bahkan, munajatnya setara dengan 40 Wali. Di tangannya terbentuk sebuah madrasah, di kakinya berladang sorga.

Apa Yang Terjadi Dengan Majalah, Malam Itu

"Kamu harus berusaha agar kesenanganmu membaca koran sama dengan kesenanganmu makan rujak" begitu petuah dari kolomnis cum tokoh ...