Habbit membaca memang kegiatan yang mudah, tapi agak sulit dilakukan. Namun ini tidak berlaku bagi Moh.Hatta. Sosok yang sangat bibliofil sekaligus poliglot ini, pernah membuat Belanda ketar-ketir ketika ia menyampaikan pledoinya bertajuk Indonesia Vrij – Indonesia Merdeka, di Den Haag, Belanda.
Kembali ke adegan “Iqra”, ketika membaca, seseorang seringkali ngos-ngosan ke
halaman berikutnya. Tak dapat dipungkiri, bahwa kegandrungan terhadap dunia
pustaka tidak terlepas dari pengaruh sekitar. “Bukan intelektual yang
mempengaruhi lingkungan seseorang, melainkan lingkungan yang mempengaruhi
intelektual seseorang” begitulah yang tercermin dalam bukunya Bung Hatta
berjudul Untuk Negeriku.
Agaknya, hal ini selaras dengan “De appel valt niet” seperti kata
pepatah Belanda “ver van de stam”, atau dalam istilah Jerman “Der apfel fallt
nicht weit von dem stamm” yang bermakna: Buah apel tak jatuh jauh dari
pokoknya, begitu tutur Hatta yang termuat dalam autobiografi Untuk
Negeriku.
Yang menarik dari Hatta, bukan hanya “syarat menikahnya, setelah
Indonesia merdeka”, melainkan kepribadian Hatta yang prolifick, sederhana,
namun tegas dalam bersikap.
Akhirul kata, Bung Hatta, Bung Syahrir, dan beberapa rekan lainnya percaya bahwa dalam menjalan roda organisasi musti bertumpu pada penguatan literasi dan ruang-ruang diskusi. Bahwa “iklim akademik” yang baik, merupakan salah satu kunci dari tumbuh kembangnya suatu bangsa.

No comments:
Post a Comment