Monday, June 13, 2022

Boeng Hatta


    Habbit membaca memang kegiatan yang mudah, tapi agak sulit dilakukan. Namun ini tidak berlaku bagi Moh.Hatta. Sosok yang sangat bibliofil sekaligus poliglot ini, pernah membuat Belanda ketar-ketir ketika ia menyampaikan pledoinya bertajuk Indonesia Vrij – Indonesia Merdeka, di Den Haag, Belanda.

    Kembali ke adegan “Iqra”, ketika membaca, seseorang seringkali ngos-ngosan ke halaman berikutnya. Tak dapat dipungkiri, bahwa kegandrungan terhadap dunia pustaka tidak terlepas dari pengaruh sekitar. “Bukan intelektual yang mempengaruhi lingkungan seseorang, melainkan lingkungan yang mempengaruhi intelektual seseorang” begitulah yang tercermin dalam bukunya Bung Hatta berjudul Untuk Negeriku.

    Agaknya, hal ini selaras dengan “De appel valt niet” seperti kata pepatah Belanda “ver van de stam”, atau dalam istilah Jerman “Der apfel fallt nicht weit von dem stamm” yang bermakna: Buah apel tak jatuh jauh dari pokoknya, begitu tutur Hatta yang termuat dalam autobiografi Untuk Negeriku.

    Yang menarik dari Hatta, bukan hanya “syarat menikahnya, setelah Indonesia merdeka”, melainkan kepribadian Hatta yang prolifick, sederhana, namun tegas dalam bersikap.

    Akhirul kata, Bung Hatta, Bung Syahrir, dan beberapa rekan lainnya percaya bahwa dalam menjalan roda organisasi musti bertumpu pada penguatan literasi dan ruang-ruang diskusi. Bahwa “iklim akademik” yang baik, merupakan salah satu kunci dari tumbuh kembangnya suatu bangsa.

No comments:

Post a Comment

Apa Yang Terjadi Dengan Majalah, Malam Itu

"Kamu harus berusaha agar kesenanganmu membaca koran sama dengan kesenanganmu makan rujak" begitu petuah dari kolomnis cum tokoh ...