Sebelum berangkat
ke pasar, ibu singgah sebentar ke tempat abangnya: Bank. Aku senang bukan
kepalang jika mendengar kabar ibu hendak pergi ke pasar. Melihat mainan robot,
mobil-mobilan, seperti punya teman yang tak pernah kumiliki. Tapi tak apa
pikirku, kan aku punya ibu dan. Ibu adalah segalanya bagiku.
Sesampai di bank,
aku bilang ke ibu ikut masuk ke dalam. Aku penasaran kenapa setelah orang
dewasa itu keluar dari sana wajahnya bisa berubah-ubah seketika. Ada yang
senyumnya bermekaran, meskipun namanya bukan Bunga. Ada yang cemberut persis
ketika aku tidak dibelikan mainan oleh ibu. Ada-ada saja perangai orang dewasa,
pikirku.
Waktu masuk ke
dalam atm itu kurasai hawa yang berbeda. Kok dingin banget ya disini, pikirku
sambil memeluk tubuhku yang mungil. Aku menghirup udara ac yang dingin melalui
hidung lalu menghembuskannya lewat mulut, ku ulangi terus-menerus selama di
dalam atm itu.
Pun kartu ditelan,
aku melihat ibu yang sedikit fokus memasukkan entah angka apa itu. Dan ketika
mesin berbunyi tanda mengeluarkan uang. Aku berkata kepada ibu yang tanggan
menggadahkan sedari tadi, “Bu, nanti kalau uangnya udah keluar, boleh aku yang
ambil ya”.
Jika mengingat kisah ini. Aku ingat,
bahwa umurku sudah tidak kecil lagi.
No comments:
Post a Comment